Siter, Peyek Teri, dan Lorong Waktu Lereng Batoer Gunungkidul

Siter, Peyek Teri, dan Lorong Waktu Lereng Batoer Gunungkidul
Tudung jaket merah serta merta ditangkupkan ke ribuan helai mahkota wanita saya sendiri. Angin sore di Batoer Hill Resort menjelang malam memang lebih mendesau, namun tak mengurangi lentiknya pemain siter membius telinga saya. Satu jam lagi belasan lampion akan dilepas untuk menemani bulan di langit lereng Batoer Gunungkidul. Saya seperti menembus lorong waktu. Tiga pria separuh abad lengkap dengan Surjan Lurik biru, Blangkon, dan kain batik yang membebat pengganti celana panjang, sudah beberapa menit memainkan alat musik tradisional pulau Jawa. Selama setengah jam kemudian para Bloger di Joglo utama termasuk saya menjadi terdiam. Harmoni, suasana, dan senja yang mulai mengunjungi lereng Batoer memang mendukung kehadiran alunan musik yang tercipta. Kembali saya seperti menembus lorong waktu.
Joglo utama. Doc:Pribadi
Joglo utama. Doc:Pribadi
Dulu hampir setiap satu kali dalam seminggu, ada sepasang seniman yang menyendungkan lagam (nyanyian khas jawa) berkeliling  perumahan. Sudah bertahun-tahun lalu, saya tidak mendapati mereka kembali, dan hanya bisa menikmati permainan cantik siter melalui streaming dunia maya. Sebuah kerinduan untuk kembali romansa mereka melalui dawai Siter. Akhirnya pada Jumat 4 Agustus 2017 saya mendapati secara langsung permainan siter walau bukan dari pasangan suami istri tersebut. Batoer Hill Resort telah membawa kembali kenangan saya dengan baik. Memang benar, bukan hanya saya yang terputar lagi memori akan permainan ciamik para seniman tradisional. Beberapa bloger terhanyut menikmati harmoni yang tercipta.
Sego Liwet. Doc:Pribadi
Sego Liwet. Doc:Pribadi
Undangan untuk segera menikmati salah satu sajian kuliner andalan di Batoer Hill Resort, tak menghentikan saya untuk mengabadikan keahlian tiga pria di depan mata. Setelah beberapa kali lambaian tangan, dan beberapa momen sudah berpindah di gawai, saya bergegas ke meja samping balai rumah Joglo. Udara malam memang selalu mengetuk keinginan untuk menenangkan isi perut yang bergejolak. Kubah dari Sego Liwet (Nasi yang dimasak dengan santan) tepat berada di bagian tengah piring makan berukuran standar. Perhatian pertama tertuju pada sesuatu yang berwarna coklat yang sudah saya akrabi. Peyek Teri merupakan tebakan saya, dan pada patahan pertama di lidah ternyata benar adanya. Asin namun membuat ketagihan bila dipadankan dengan Sego Liwet yang gurih.
Bulan menyapa. Doc:Pribadi
Bulan menyapa. Doc:Pribadi
Awalnya saya sedikit pesimis, takut Peyek Terinya mlempem(tidak keras lagi) tepatnya mengingat angin di lereng Batoer mendensau. Ternyata jenis krupuk yang saya sukai tersebut tidaklah membuat saya patah hati. Bersama dengan suapan beruntun Sego Liwet, sudah habislah Peyek Teri berhasil saya santap. Coba disertakan satu toples penuh ya. Sambal Goreng Tempe  menjadi perhatian  ketiga saya  setelah mendapati Gudangan yang bersanding manis dengan  Peyek Teri.  Gudangan nya sendiri ternyata disajikan segar  ditandai aroma bumbu, warna sayur yang tetap hijau, dan parutan kelapa yang berkilat. Melihat sajian tersebut kemudian teringat akan teman yang sangat menyukai Gudangan, akan segera saya  rekomendasikan untuk sekalian menginap.
Penginapan. Doc:Pribadi
Penginapan. Doc:Pribadi
Suwiran Ingkung Ayam terpilih menjadi perhatian terahkir saya setelah Tempe Goreng berbentuk segi panjang. Seluruh menu yang saya sebutan, sudah mengelilingi kubah Sego Liwet yang memang disajikan hangat. Sembilan belas kubah Sego Liwet serupa juga menemani piring yang saya pilih. Untunglah berhasil saya pegang sebelum Bloger yang lain menyentuhnya, karena memang sajian Sego Liwet Gudangan menggoda selera. Beberapa Bloger pria kemudian memesan satu lagi setelah sukses menghabiskan satu porsi Sego Liwet Gudangan. Ada Joglo khusus sebenarnya di mana memang disediakan sebagai tempat makan, namun saya tetap memilih Joglo utama. Tiga pria berpakaian lurik tetap memainkan dengan semangat Siter, Gamelan dan Rebab. Di samping masakan yang disajikan cocok di lidah saya, ada alasan lain yang menyertai yaitu suasana yang mendukung. Seperti yang dikatakan pemillik Batoer Hill Resort yaitu Pak Win dan Bu Irma Devita, bahwa semua masakan akan bertambah nikmat saat berada di lereng batur yang sajian pemandangannya masih asri.
Jembatan penginapan samping. Doc:Pribadi
Jembatan penginapan samping. Doc:Pribadi
Batoer Hill Resort yang terletak dekat dengan wisata Gunung Api Nglageran memang menyajikan pesona tersendiri baik saat matahari bertahta maupun bulan tersenyum. Pada saat saya dan dua puluh blogger Jogja yang lain bertandang, yang tersaji memang suasana yang nyaris sempurna. Sunset menyapa dengan ramah, bintang tersemat, bulan tersenyum, angin mendesau tanpa menyakitkan dan satu suara yang tak pernah terlupa muncul. Lenguhan lembu bernyanyi di antara dentingan piring yang sudah setengah saya lahap hidangannya. Seperti sebuah keharusan yang wajar, maka spot foto juga berlimpah di resort baru Yogyakarta tersebut. Mulai dari pintu gerbang yang terdiri dari empat pilar kayu dan atap khas Rumah Joglo dengan pencahyaan yang menambah kesan anggun. Sepadan dengan dua joglo  di tengah area utama, dan sejalan dengan pemilihan menu kuliner yang memang khas Jawa. Dan saya kembali menyusuri lorong waktu.  
Logo Batoer. Doc:Pribadi
Logo Batoer. Doc:Pribadi
Spot selanjutnya pada tulisan besar "Batour " dengan putih dominan berlatar belakang hamparan luas kota Jogja. Jika pada pagi, atau siang hari maka pemandangan berupa sawah serta hutan pinus yang berjajar rapi. Saat saya datang, hijau menjadi warna utama, dan bisa dipastikan akan bertambah indah bila panen sudah tiba. Saat senja sudah tiba, maka kerlip bintang, dan pendar dari lampu kota terlihat genit menyapa. Saya teringat seseorang. Saya tidak akan berkisah lagi tentang spot foto yang tersedia, karena foto-foto yang terlampir akan mewakili semuanya. Dan ketika isi piring makan saya sudah bersih, maka wedang Jahe sudah menunggu untuk disesap sebenarnya. Namun saya tak sabar untuk  mengabadikan naiknya belasan lampion di pelataran Joglo. Acara terahkir pada wisata singkat Bloger Jogja Jalan-jalan memang penyalaan lampion yang bertudung warna-warni.
Pesta Lampion. Doc:Pribadi.
Pesta Lampion. Doc:Pribadi.
Lampion kemudian dinyalakan dengan syarat dipegang oleh dua orang agar bisa dinyalakan dan diterbangkan dengan sempurna. Semua lampu utama  kemudian dimatikan, dan tak beberapa lama kemudian langit mulai dihiasi oleh pelita yang  beterbangan. Saya kemudian teringat akan sesorang. Acara Lampion di Batoer Hill Resort sendiri bisa dilakukan dengan reservasi khusus sebelumnya. Semua hal itu dikarenakan kebutuhan ketepatan arah, dan arus angin yang tepat untuk menaikkan lampion.  Dan seperti yang dijelaskan Pak Win bahwa acara lampion ini hanya sebagian kecil dari fasilitas hiburan bagi para tamu di kemudian hari. Sebut saja Flying Fox dengan dua sling yang pastinya lebih terjamin daripada satu sling. Outbond, ayunan langit juga akan disediakan dengan tingkat keamanan yang terjamin. Permainan tradisional seperti Egrang, Lompat Tali, Grobak Sodor akan menjadi paket khusus. Lagi-lagi saya seperti menembus lorong waktu. Salah satu yang membahagiakan bagi saya adalah mengetahui bahwa setiap hidangan, dan minuman yang tersaji adalah hasil bumi serta racikan penduduk desa batoer sendiri. Demikian juga setiap seniman yang secara professional mengantarkan keahliannya pada tamu Batoer Hill Resort. Perlu diketahui para seniman tersebut mempunyai mata pencaharian utama sebagai petani, tukang batu ataupun kuli bangunan. Hal tersebut membuktikan adanya semangat pemberdayaan masyarakat, dan berbagi semangat berwirausaha dari pihak manajemen Batoer Hill Resort.
Gerbang Depan. Doc:Pribadi
Gerbang Depan. Doc:Pribadi
Saya memang menyusuri lorong waktu kala mengunjungi lereng Batoer terutama saat Siter dipetik dawainya. Peyek Teri dulu sering disajikan nenek saya saat bertandang ke Dusun Piyungan yang terletak di kaki Lereng Batoer. Sawah yang menghijau, serta lambaian daun kelapa juga kerap saya pandangi saat mencecap Teh Nasgitel (Panas Legi tur Kentel) olahan nenek. Dan memang saat semua itu hampir tersimpan jauh di ingatan, suasana Batoer Hill Resort memancing keluar. Kali kedua saya akan menginap di salah satu dari 10 kamar dengan fasilitas televisi kabel di sana. Sekaligus untuk mendapat kesempatan menggoda rombongan burung yang rajin berkicau saat matahari mengerlingkan hangatnya sinar. Dan tak lupa ingin menyapa lembu yang amat jarang saya lihat secara langsung semenjak sawah mulai berkurang. Terima kasih atas semua yang momen yang tercipta saat saya di lereng Batoer.